Tampilkan postingan dengan label kutipan inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kutipan inspiratif. Tampilkan semua postingan
5 Cara Islami Berkepribadian Menyenangkan
Untuk memiliki kepribadian yang menyenangkan bukanlah sesuatu yang sulit

Untuk memiliki kepribadian yang menyenangkan bukanlah sesuatu yang sulit, yang pasti ada banyak cara untuk memperolehnya. Namun yang terpenting adalah adanya kemauan dalam diri kita untuk memiliki kepribadian yang menyenangkan. Sebab dengan memiliki kepribadian ini bukan hanya dapat mempengaruhi kesehatan jasmani dan ruhani orang yang memilikinya, akan tetapi ia juga akan mendapatkan orang lain merasa nyaman berada di sisinya.

Maka dari itu, memiliki kepribadian yang menyenangkan bukan saja harus dimiliki oleh seorang dai yang setiap hari tugasnya adalah menyampaikan risalah dakwah kepada masyarakat, namun juga oleh siapapun, dan pada profesi apapun. Sebab hakekatnya manusia di manapun sama, ia akan tertarik kepada sesuatu yang ia lihat menyenangkan, dan akan lari dari sesuatuyang terlihat menjengkelkan.
Betapa senangnya hati kita, ketika kita mendapatkan banyak orang yang menghargai kita, menghormati kita, memperdulikan kita, namun bukan karena ada apa-apanya, tetapi semata-mata karena memang kita memiliki kepribadian yang menyenangkan. Sungguh sangat sengsara seseorang yang selalu mendapatkan pujian orang banyak, sanjungan, perhatian, penghargaan, dan lain-lain, hanya karena orang-orang tersebut takut akan ketidakstabilan emosinya yang kemungkinan bakal mengancam masa depan hidupnya. Percayalah bahwa semua hal yang ia dapatkan berupa sanjungan itu hanyalah semu belaka dan tidak akan bertahan lama. Hal ini karena pujian itu tidak keluar dari dalam hati yang paling dalam, karena ia muncul bersamaan dengan adanya kepribadian yang tidak menyenangkan.
Dalam kesempatan ini, akan saya sampaikan bagaimana cara islami memiliki kepribadian yang menyenangkan, semoga dapat merubah hidup kita menjadi lebih dicintai oleh manusiasemata-mata karena mereka merasa nyaman berada di sisi kita.
1. Memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan orang lain.
Salah satu sifat seorang muslim yang berjiwa besar adalah, dalam dirinya selalu tersimpan rasa ingin selalu berkhidmat kepada orang lain dan bukan meminta dikhidmati oleh orang lain. Karena ia merasa yakin bahwa sebanyak itu ia memberikan perhatian kepada orang, sebanyak itu pula ia akan mendapatkan perhatian dari orang lain. Orang lain tak ubahnya sebagai refleksi dari pada diri kita sendiri.
Pepatah melayu mengatakan, "jika buruk wajah jangan lalu cermin yang dipecah" tetapi perbaikilah bentuk dan raut wajah, niscaya cermin itu dengan sendirinya akan mengeluarkan pantulan yang indah. Nah, salah satu yang dapat memantulkan bayangan indah dari cermin orang lain itu adalah prilaku kita yang senantiasa ingin memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan orang lain. Tidak ada yang dapat membahagiakan hati kita, kecuali jika kita telah benar- benar membantu dan meringankan beban orang lain, tentu dengan satu keyakinan bahwa Allah Swt.akan senantiasa meridoi segala apa yang kita perbuat.
Ada satu hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Dawud, di mana Nabi Saw bersabda, "Barangsiapa yang diserahi amanat untuk mengurus kebutuhan umat, namun ia lalai atau tidak memperdulikan kebutuhan, kepentingan dan keterdesakan mereka, maka Allah swt. akan memperlakukannya sama dengan tidak akan memperdulikan kebutuhan, kepentingan dan keterdesakannya di akherat kelak".
2. Lemah lembut dan dapat mengontrol emosi
Dalam hidup ini, terkadang dalam hati kita sudah tertanam untuk tidak melakukan perbuatan buruk yang bakal merugikan orang lain, namun perbuatan buruk itu bisa jadi muncul dari orang lain. Ada saja perbuatan orang lain yang membuat kita merasa jengkel dan panas hati, boleh jadi perbuatan tersebut disengaja atau tanpa disadarinya. Seseorang yang memiliki kepribadian yang menyenangkan, ia tidak lantas main hantam dan menyalahkan secara kasar. Namun yang ia lakukan adalah memberikan masukan secara bijak dan penuh kearifan. Boleh jadi dengan kearifannya ini akan membekas di hati orang yang berbuat salah kepadanya, sehingga di hari kemudian orang tadi menjadi orang yang selalu merasa takut berbuat kesalahan sekecil apapun berkat nasehat dan masukan yang arif tersebut.
Sungguh besar pahala kita jika kita mampu merubah jalan hidup orang lain hanya semata-mata sikap lemah lembut dan kemampuan kita mengontrol emosi itu. Ketimbang, jika yang kita lakukan adalah memaki dan memarahinya seolah-oleh tidak ada kata maaf dan introspeksi dalam kamus diri kita. Rosulullah Saw. adalah tauladan yang paling baik, bagaimana beliau bersikap terhadap orang 'ndeso' yang pernah menjambak selendang beliau di tengah orang banyak secara kasar, sampai-sampai akibat jambakan tersebut leher Rosulullah merah memar. Lalu orang itu dengan keras berkata, “Wahai Muhammad beriakanlah sebagian harta yang kau miliki...” Para Sahabat yang ada di sekitar nabi ingin marah, tapi sikap Rasulullah ketika itu malah memberikan senyumannya kepada orang itu, lalu dengan penuh kasih sayang beliau berikan seledang yang beliau punya kepada orang tadi.
3. Mampu memberikan reward dan empatik kepada orang lain
Salah satu ciri orang yang memiliki kepribadian yang menyenangkan adalah ia mudah memberikan reward atau penghargaan berupa pujian tulus kepada orang yang telah berbuat baik sekecil apapun. Kata-kata seperti, "oh, memang betul-betul hebat kamu yah, atau, "wah, coba kalau tidak ada kamu tadi, bisa lain urusannya", dan lain-lain yang menggambarkan bahwa kita benar-benar dapat menghargai karyacipta orang lain. Coba kita bandingkan dengan ungkapan berikut, "ah, kalau itu sih siapa juga bisa", atau "yah, lumayan lah nggak jelek-jelek banget sih" dan yang semisalnya.
Betapa kata-kata ini menampakkan kita belum dapat menghargai apa yang dilakukan orang lain. Coba kita lihat bagaimana Rosulullah ketika ada sesorang yang sedang bicara dengannya, maka dengan penuh khusuk beliau hadapkan badan, telinga, dan matanya untuk memperhatikan lawan bicaranya, dan tidak pernah beliau memotong pembicaraan orang tersebut, sampai ia benar-benara telah selesai dari pembicaraannya. Hal ini betapa beliau mengajarkan kepada kita untuk selalu menghargai orang lain, dan inilah caranya agar kita dapat memiliki kepribadian yang menyenangkan sehingga orang lain merasa nyaman berada di sisi kita.
4. Tidak membuang muka kepada orang yang suka maksiat
Dalam lingkungan kita terkadang ada orang yang dianggap sampah masyarakat. Kegemarannya adalah mencari keonaran dan membuat kerusuhan dalam masyarakat. Banyak orang yang dalam menghadapi orang semcam ini, malah mengucilkannya. Sampai-sampai ada kesepakatan untuk tidak melakukan hubungan dengan orang tersebut. Sebagai seorang muslim yang kuat, yang tentunya memiliki keyakinan akan adanya kebaikan dalam diri orang tersebut, kita tidak boleh lekas-lekas memutuskan hubungan dengannya.
Akan tetapi kita berusaha untuk selalu mencari celah mengajaknya kembali kepada jalan yang benar. Bahkan harus kita ciptakan strategi yang membuatnya dapat luluh untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang tercela itu. Terkadang untuk mewujudkan hasil ini, perlu sesekali kita mengikuti dunia hitam yang orang itu geluti seperti dunia malam, hiburan, perjudian, dll…namun ada satu misi yang kita tuju, yaitu kita akan merubah jalan hidup orang tersebut sekiranya kita telah berhasil meraih hati orang tersebut.
Ada satu contoh yang menarik dari cara dakwah seorang wali songo yang ikut menggunakan wasilah musik dan kesenian daerah untuk dijadikan sarana dakwah, ia gunakan wasilah yang sama namun isi dari pertunjukan itu ia rubah menjadi nada-nada dakwah kepada jalan Allah. Berapa banyak orang yang awalnya tidak tau agama lalu menjadi tertarik dengan ajaran agama dengan cara seperti itu. Kuncinya adalah, agar kita tidak lekas memandang sebelah mata terhadap orang-orang yang kadung dianggap sebagai sampah masyarakat.
5. Tidak bersikap angkuh
Banyak orang mengira bahwa dengan bersikap angkuh akan menjadikan diri kita disegani oleh orang lain, yang betul justru sebaliknya orang akan enggan bergaul dengan kita. Dalam realitas hidup bisa jadi ada orang yang merasa minder melihat kesuksesan hidup yang diraih oleh kita misalnya, rasa minder ini lalu akan melahirkan rasa rendah diri dan kurang bersahabat dengan kita. Pada saat inilah kita perlu menunjukkan sikap rendah hati kita untuk memulai mencairkan kondisi dengan bersikap ramah dan tawadu kepada mereka. Hal ini pula yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw, ketika ada seseorang yang hendak menghadap kepada beliau untuk suatu keperluan, namun karena besarnya wibawa rasulullah maka orang tersebut menjadi gugup dan tidak percaya diri, dengan santun kanjeng Nabi berkata, "santai saja, Aku bukanlah Malaikat, aku hanyalah seorang anak ibu dari suku Quraisy yang juga sama-sama makan bubur nasi".
Sikap tawadu inilah yang membuat suasana menjadi cair dan berjalan normal, sehingga orang lain merasa senang berada disisi kita. Lalu coba kita bedakan dengan sikap syetan yang berkata, "sesungguhnya Aku lebih mulia dari Adam, karena aku diciptakan dari api, sedang Adam dari tanah," (Q.S. Shad:76).
Demikianlah di antara cara bagaimana memiliki kepribadian yang menyenangkan, semoga dengan bekal cara ini kita dapat memperoleh target dari sebuah pergaulan hidup yaitu menyebarkan keindahan-keindahan ajaran Allah Swt, baik dengan cara lisan maupun dengan amal perbuatan. Siapa tau, banyak orang yang tertarik kepada Islam bukan hanya disebabkan keindahan ajarannya saja, namun karena ketertarikan mereka kepada perangai yang menyenangkan dari yang kita miliki itu. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Penikmatan atas Keterasingan
Oleh Kuss Indarto

(Tulisan ini telah dimuat dalam katalogus pameran Alienated Life. Pameran berlangsung di gedung Bentara Budaya Yogyakarta, 4-11 Januari 2005)

Memperbincangkan ihwal alienasi, keterkucilan atau keterasingan, dimungkinkan akan bermuara pada serentetan perbincangan yang berbau filosofis ihwal nilai-nilai hakiki manusia. Dan ini berisiko masuk dalam kubangan persoalan yang begitu rumit, mungkin juga absurd – tak jauh beda dengan absurditas Sisiphus yang dikisahkan oleh Homerus dan Albert Camus sebagai sosok yang bersetia jatuh-bangun membopong batu besar menuju puncak gunung.

Alienasi yang menimpa manusia salah satunya memiliki titik picu dari relasi manusia dengan agama. Setidaknya, ini pernah dipetakan begitu rinci oleh Karl Marx yang mengoreksi pandangan-pandangan Feuerbach. Feuerbach sendiri sebelumnya melakukan kritik agama untuk menyanggah Hegel. Inti kritik tersebut menyebut bahwa bukanlah Tuhan yang menciptakan manusia, melainkan Tuhan adalah ciptaan angan-angan manusia (Magnis-Suseno, 1999). Dengan lantang dia menyatakan bahwa “penderitaan manusia adalah tempat kelahiran Allah”. Lebih lanjut dikatakan bahwa agama hanyalah proyeksi hakikat manusia.

Konsep tentang Allah, malaikat, surga, atau neraka tidak mempunyai kenyataan pada dirinya sendiri, melainkan hanya merupakan gambaran-gambaran yang dikonstruksikan oleh manusia tentang dirinya. Dia tak lebih sekadar angan-angan manusia tentang hakikatnya sendiri. Namun kemudian manusia lupa bahwa angan-angan itu ciptaannya sendiri. Feuerbach hendak mengatakan adanya laku fetisisme, pemberhalaan agama oleh manusia. Yakni bahwa penghadiran agama – tanpa disadari – adalah upaya penyembahan manusia tehadap hasil ciptaan sendiri. Dengan demikian, sebenarnya manusia menyatakan keseganan terhadap hakikatnya sendiri, tetapi tanpa menyadarinya. Agama mengungkapkan keterasingan manusia dari dirinya sendiri.

Oleh karenanya dengan ekstrem Feuerbach merekomendasi untuk meniadakan agama sehingga manusia mampu mengakhiri keterasingannya dan menjadi diri sendiri. Ia harus “menarik agama ke dalam dirinya sendiri”. Konsep kepercayaan bahwa Tuhan itu Mahatahu, Mahabaik, Mahaadil harus dibongkar agar manusia mewujudkan potensi-potensinya bahwa dia sesungguhnya mampu menjadi tahu, baik, adil dan sebagainya. Dan, dengan demikian teologi diusulkannya menjadi antropologi karena menggali pemahaman terhadap manusia dianggap jauh lebih penting ketimbang mengorek “anatomi” dan “nilai” Tuhan.

Marx sendiri, setidaknya menggarisbawahi apa yang telah diungkapkan Feuerbach. Memang, manusialah yang membuat agama, bukan agama yang membuat manusia, katanya. Agama merupakan perealisasian hakikat manusia dalam angan-angan saja, yang menjadi tanda bahwa manusia justru belum berhasil mewujudkan hakikatnya. Agama menjadi tanda bagi keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Ya, mengapa manusia hanya merealisasikan hakikat dirinya dalam kesemuan khayalan agama? Dari titik inilah kemudian Marx “menemukan” sesuatu yang sangat penting: agama hanyalah tanda keterasingan manusia tetapi bukan dasar dari keterasingan manusia.

Keterasingan manusia dalam agama adalah ungkapan keterasingan yang lebih mendalam. Agama hanyalah sebuah pelarian karena realitas memaksa manusia untuk melarikan diri. Marx menegaskan bahwa agama adalah realisasi hakikat manusia dalam angan-angan karena hakikat manusia tidak mempunyai realitas yang sesungguhnya. Agama boleh jadi merupakan ungkapan penderitaan dan protes terhadap penderitaan yang sungguh-sungguh. Agama menjadi semacam keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagaimana ia adalah suatu “ruh zaman” yang tanpa ruh. Dan dengan ekstrem Marx menyebut agama sebagai candu rakyat.
Kritik (agama) Marx tersebut kemudian menemukan biang sasaran kritik yang sebenarnya, yakni masyarakat. Artinya kritik terhadap agama saja akan menjadi sia-sia karena tidak mengubah akar struktur sesungguhnya yang melahirkan agama, yakni masyarakat. Dengan demikian perbincangan yang rumit tentang alam filsafat dan kritik teoritis bergeser menuju arena politik. Dan agenda besarnya adalah mengubah struktur-struktur masyarakat, karena dari sanalah diasumsikan awal munculnya dasar keterasingan manusia.

Pertanyaan berikutnya, struktur masyarakat yang manakah itu? Marx menemukan jawabannya dalam analisis Hegel mengenai masyarakat modern yang memiliki kekhasannya yakni perpisahan antara civil society dan negara. Civil society sendiri adalah masyarakat luas atau lingkungan sosial manusia di luar keluarga dan negara, yakni lingkungan yang berfungsi menyediakan kebutuhan-kebutuhannya: lingkungan pekerjaan, pendidikan, rekreasi dan sebagainya. Ciri pokok yang prinsipil dalam civil society: kebutuhan praktis dan egoisme. Dalam civil society, orang bergerak bukan demi kepentingan bersama, melainkan demi kepentingan egoismenya sendiri. Namun tidak mungkin masyarakat bisa bersatu dan tahan semata-mata karena egoisme masing-masing warganya. Dan diasumsikan bahwa akumulasi egoisme semua individu akan menghasilkan anarki. Karena itu, sebagaimana yang dianalisis oleh Hegel, masyarakat memerlukan kekuatan yang mengatasi egoisme tersebut dan mempersatukan masyarakat dengan membentuk komunitas bernama negara.

Dengan demikian, manusia sudah terpilah ke dalam individu yang murni egois, yang mengejar kepentingan egoisnya sebagai warga negara yang bersifat moral dalam arti bahwa ia menahan diri dari tindakan tidak bermoral karena harus taat pada undang-undang yang dibuat oleh negara. Dari sini tampak bahwa Marx melihat keterasingan yang menghasilkan agama: dalam keterasingan manusia dari sifat sosialnya. Sebagai individu, manusia itu egois, dan ia hanya sosial karena harus taat pada negara. Secara ekstrem Marx menyebut bahwa negara bukan hanya dibuat lebih terbuka, tetapi harus dihapus karena yang dibutuhkan adalah emansipasi manusia sebagai manusia bukan emansipasi politis. Maka, bagi Marx, adanya negara membuktikan bahwa manusia terasing dari kesosialannya karena andaikata manusia sosial dengan sendirinya, tidak perlu ada negara yang memaksanya agar mau bersifat sosial.

Dalam derivat (turunan) yang lebih jauh, Marx juga menengarai adanya proses keterasingan dan keterkucilan manusia dalam atribusinya sebagai buruh pada sebuah industri. Dalam sistem yang kapitalistik, seorang buruh akan melakukan pekerjaannya tidak dalam upaya untuk merealisasikan hakikat mereka, melainkan justru mengasingkan diri mereka. Misalnya, seorang buruh. Mereka bisa merasa terasing dari produknya. Apalagi andai dia hanya mengerjakan bagian kecil dari sebuah mata rantai produk raksasa yang ketika sudah jadi, barangkali produknya tak pernah dilihat atau apalagi dikonsumsinya. Laku seperti itu, menurut Marx, akan memiskinkan dunia batinnya. Tindakan pekerjaan seperti itu pun kehilangan arti bagi si pekerja. Lama-kelamaan, dengan memperalat pekerjaannya semata-mata demi tujuan memperoleh nafkah, manusia akan memperalat dirinya sendiri lewat pekerjaan tersebut. Dalam sebuah pabrik, seorang buruh tidak lebih dari sederet nomor barcode atau sistem kode yang dioperasikan sebagi penanda dari sebuah citraan yang massal dan homogen. Tanpa jiwa, tanpa identitas yang mandiri.

Kemudian kekuasaan uang juga menguatkan tanda larutnya keterasingan bagi banyak persoalan dalam berbagai segi. Manusia tidak lagi bertindak demi sesuatu yang bernilai pada dirinya sendiri atau demi kebutuhan sesama, melainkan hanya sejauh tindakannya akan berpotensi mereproduksi uang. Semua dipandang dari aspek keuntungannya, tak peduli dengan modus mutual-parasitisma yang akan mengasingkan manusia dengan komunitasnya. Uang menandakan keterasingan manusia dari alam dan dari sesama manusia. Bahkan, dalam contoh yang ekstrem, di alam kapitalisme ini seseorang akan mau mengoleksi sebuah karya lukisan bukan demi aspek nilai, makna dan citra artistik yang menebar di dalamnya, melainkan karena tingginya harga yang akan mempertaruhkan reputasi dan citra kapital(isme) dari sang pembelinya. Maka, bukan sesuatu yang janggal andaikan sebentang lukisan mahal hanya teronggok di sebuah garasi atau gudang sebuah rumah mewah kolektor, bukan di ruang yang terhormat. Ini karena, sadar atau tak sadar, yang dibeli olehnya adalah sebentang kanvas keterasingan.

Saya kira, dalam spektrum pemikiran untuk membaca ulang keterasingan (manusia atas alam-lingkungan atau manusia atas manusia) seperti di ataslah, karya-karya Ouda Teda Ena ini mengoperasikan garis representasinya. Semua bentangan kanvasnya dijadikan “kuda pacu” untuk merefleksi dan mengguratkan hasil pembacaannya atas kecenderungan sosial yang “menjadi terasing” yang ditemuinya dalam ruang realitas obyektif dan ruang permenungannya.
Secara umum terlihat dengan lekas dari aspek visualitasnya yang mengindikasikan metafor keterasingan, yakni rangkaian kotak-kotak kecil dalam tiap kotak (besar) kanvasnya. Kotak-kotak ini seolah membangun pemahaman akan kuatnya individualisme, egoisme bahkan egosentrisme personal atau komunal yang menguat dalam realitas sosial kita dewasa ini. Karya Terrorism and Martyrdom, kiranya bisa menjadi contoh menarik karena karibnya persoalan egosentrisme komunal yang berkecenderungan menguat di sekitar kita akhir-akhir ini. Dengan lugas Ouda mempertentangkan secara diametral dua hal yang berseberangan secara ekstrem satu sama lain. Idiom visual sabit atau arit diposisikan vis a vis secara “semena-mena” oleh Ouda untuk membunyikan spirit proletarianisme berhadap-hadapan dengan fundamentalisme (dengan membopong atribut radikalisme agama) dalam satu ruang oposisional. “Jargon” yang bernas menguatkan hasrat kreatif dosen Universitas Sanata Dharma ini: “Yang satu membabat padi supaya orang terus makan nasi, yang satu membabat nadi supaya orang berhenti makan nasi”. Karya ini sebenarnya memiliki garis gagasan yang kuat, namun sistem perlambangan yang coba dibangun belum cukup kongruen dengan sistem perupaannya. Sehingga memang teks penyerta menjadi penolong apresian dalam berburu makna.

Ini berbeda misalnya dengan karya lain, Matinya Bagong. Meski begitu kuat menggenggam nilai lokalitas – kurang cukup universal – tetapi sistem tanda yang ditawarkan, bagi saya, sudah mengemukakan hasrat pemikiran kritis kreatornya. Ada beberapa sosok Bagong di sana, yang lalu – menurut arah jarum jam – “bermetamorfosis” menjadi sosok kaleng soft-drink. Proses “metamorfosis” antara dua sosok yang tidak analog ini seperti akan menunjuk pada dua hal.
Pertama, globalnya kapitalisasi Barat telah membuat proses uniformisasi ekstrem yang tidak santun dengan menggulung kekayaan variabel budaya lokal. Maka, yang tengah terjadi kini adalah adagium kuno: westernisasi, bukan globalisasi. Atau dalam ranah tertentu yang berkait dengan ihwal praktik konsumsi global, terjadilah apa yang disebut oleh Walter Wriston (1992) sebagai Mcworld-ization. Kedua, adanya pertentangan dikotomik yang ditawarkan yang mempersuasi munculnya pemikiran filosofis, yakni antara “rasa(wi)” dan “raga(wi)”. Bagong, salah satu tokoh punakawan dalam jagat wayang purwa, menjadi ikon budaya Jawa yang lahir dari rasa dan karsa manusia Jawa (jaman dulu). Sosoknya, saya kira, muncul dari konsepsi pemikiran dan rasa orang Jawa, serta kemudian diperuntukkan bagi pemenuhan (konsep) rasa orang Jawa. Sementara soft-drink lebih mengemuka sebagai produk instan yang lahir dari sistem ekonomi kapitalis dan, bagi sebagian orang Jawa, sekadar dikonsumsi untuk pemenuhan aspek raga(wi) semata. Tak ada kedalaman maknawi yang bisa dikonsumsi oleh batin. Melainkan berpotensi untuk melahirkan dan menambah keterasingan-keterasingan baru.

Pada karya-karya lain, tampaknya Ouda juga menempatkan gagasan dasar serupa dalam membidik beragam persoalan. Misalnya karya Dalam Enam Minggu yang mencoba menimbang-nimbang praktik konsumtivisme yang merimbun di sekitar mata kita. Juga imbas dari manusia sebagai barcode dalam sistem negara dan ekonomi yang kapitalistik muncul pada Hujan Setrika di Negeri Orang. Atau pertanyaan eksistensial tentang relasi manusia dan Sang Dia dalam The Last Supper.

Ouda, yang sempat menimba pengalaman akademik seni rupa di Australia ini seperti tengah berteriak sekaligus bersaksi pada dunia tentang manusia yang teralienasi dalam dirinya dan dari dunianya. Hanya pertanyaan besarnya adalah, situasi apakah yang terjadi dalam keterasingan itu? Apakah kita, atau di antara kita – jangan-jangan – justru begitu menikmati keterasingan dan keterkucilan yang terkonstruksi dalam sistem sosial itu? Seperti halnya kita tidak bisa sepenuhnya menduga bahwa jangan-jangan Sisiphus pun justru menikmati pekerjaannya yang absurd dan sia-sia itu? Sisiphus menikmati keasyikannya dengan tak pernah mencapai puncak gunung, dan kita kian mesra hingga orgasme dengan keterasingan kita?

Ah, tak tahulah…

A Paradox of our Time in History
By George Carlin
Paradoks sejarah waktu kita yaitu dimana kita punya gedung-gedung yang lebih tinggi tapi punya watak yang pendek; punya lebih lebar jalan-jalan tapi berpandangan sempit. Kita menghabiskan banyak waktu, tapi hanya mendapatkan sedikit; kita membeli lebih banyak tapi menikmati lebih sedikit.
Kita memiliki rumah yang lebih besar tapi dengan keluarga yang "kecil"; lebih banyak kesempatan tapi lebih sedikit waktu; kita punya lebih banyak parameter tapi sedikit perasaan; lebih banyak ilmu tapi sedikit pertimbangan; lebih banyak ahli tapi lebih banyak masalah; lebih banyak obat tapi sedikit kesehatan.
Kita minum berlebihan, merokok berlebihan, menghabiskan banyak kesembronoan, terlalu sedikit tertawa, mengemudi terlalu cepat, lebih cepat marah, bangun lebih telat, sangat sedikit membaca, terlalu banyak nonton TV, dan berdoa terlalu sedikit. Kita punya banyak barang milik pribadi tapi kita kehilangan nilai-nilai.
Kita berbicara terlalu banyak, sedikit cinta, dan terlalu sering membenci.
Kita telah belajar bagaimana caranya hidup, tapi tidak hidup. Kita telah melewati umur untuk hidup, bukannya hidup melewati umur. Kita semua telah berada pada jalan ke bulan dan kembali, tapi punya masalah untuk menyebrang jalan menemui tetangga baru.
Kita terus mencoba mengekpslorasi ruang angkasa, tapi melupakan bumi, merusak bumi.
Kita telah melakukan sesuatu yang besar, tapi tidak yang lebih baik. Kita telah membersihkan udara tapi tetap membuat polusi pada jiwa. Kita telah memisahkan atom tapi tidak memisahkan prasangka. Kita menulis lebih banyak, tapi belajar lebih sedikit.
Kita banyak merencanakan, tapi sedikit menyelesaikan. Kita telah belajar dari kesibukan, tapi tidak belajar untuk menunggu. Kita membuat banyak komputer untuk menghimpun dan memperbanyak informasi tapi kita kehilangan komunikasi.
Terlalu banyak makanan 'fast food' tapi pencernaan tetap saja lambat; lebih banyak orang besar tapi berkarakter kecil; banyak keuntungan tapi dangkal hubungan.
Lebih sering terdengar perdamaian dunia tapi juga semakin banyak perang domestik, banyak waktu terluang tapi sedikit kebahagian; lebih banyak macam makanan tapi lebih sedikit nutrisi.
Lebih banyak keluarga dengan dua pendapatan tapi lebih banyak perceraian; lebih banyak rumah keren tapi banyak yang 'broken home'; lebih banyak cara cepat tapi banyak juga popok dibuang, dibuangnya moralitas, kelebihan berat bandan, dan pil- pil yang menenangkan tapi juga membunuh.
Inilah waktu dimana begitu banyak barang terlihat di jendela tapi tak ada dalam stok, Waktu dimana teknologi dapat membawa tulisan ini kepada kita dan waktu dimana kita dapat memilih untuk menyebarkan ini atau menghapusnya. ini membuktikan kita terlalu sulit untuk bersikap adil. berfikir keras untuk memecahkan satu hal tapi melupakan hal yang lain